Di balik gemerlap Kota Makassar, terselip realita pahit bagi mereka yang menggantungkan hidup di jalanan. Tanpa batasan usia dan jenis kelamin, kita menyaksikan lansia yang seharusnya menikmati masa senja dengan tenang hingga anak-anak yang seharusnya bersekolah dan bermain, semua terpaksa berjuang keras setiap hari demi bertahan hidup.
Sebagian kecil mungkin memiliki tempat bernaung dari panas dan hujan, namun tak sedikit yang harus merasakan kerasnya jalanan karena tak punya tempat tinggal. Ini bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan akibat minimnya akses pada hak-hak dasar seperti kehidupan layak, pekerjaan, dan masa kanak-kanak yang aman.
Beban mental yang mereka pikul jauh lebih berat dari sekadar fisik. Rasa malu, putus asa, dan ketakutan menjadi teman sehari-hari. Anak-anak jalanan hidup dalam bayang-bayang ancaman seperti “jangan difoto, nanti ditangkap Satpol PP,” mencerminkan kecemasan dan trauma akan pengusiran dan perpisahan. Mereka terperangkap dalam siklus ketidakpastian dan kerentanan.
Ironisnya, kondisi yang jelas merupakan pelanggaran HAM serius ini sering dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat. Hak atas kehidupan layak, perlindungan, pendidikan, dan kesehatan seolah tidak berlaku bagi mereka. Stigma masyarakat seperti “sudah biasa dilihat” atau “itu pilihan mereka” secara tidak sadar melanggengkan ketimpangan dan penderitaan.
Sebagai sesama manusia, sudah sepantasnya kita memperlakukan mereka dengan harkat dan martabat yang sama.
Di balik gemerlap Kota Makassar…
Ada seorang kakek yang bekerja sebagai pemulung, sedang mengolah sampah di halaman rumahnya
Akibat kelelahan, ada seorang kakek jatuh tertidur disamping becaknya di sekitar jalan yang ramai oleh pengendara
Ada anak-anak yang terpaksa ikut mencari uang dengan menjual kerupuk keliling. Saat foto ini diambil mereka berkata ‘’ Jangan difoto, nanti ditangkap satpol PP’’
Ada malam-malam dimana Andi dan saudara kembarnya harus tetap mencari sampah agar bisa melanjutkan sekolah
Ada perempuan yang mungkin juga seorang ibu sedang mengumpulkan barang bekas ke gerobak untuk dijual kembali. Kerasnya kehidupan dijalanan memungkinkan perempuan mendapatkan diskriminasi yang berlapis.
Di depan kantor dewan Asosiasi Advokat Indonesia yang merepresentasikan sistem hukum dan perlindungan, berjalan seorang yang sangat membutuhkan perlindungan, yang berjuang di garis paling bawah, mengepul sampah untuk kehidupan