Pettarani, nadi kota Makassar yang terkenal karena pesonanya menjadi tempat banyak hati singgah dan menetap dalam diam. Katanya, Pettarani punya semacam getar magis, semacam ketenangan yang menelusup diam-diam ke dalam dada, bahkan di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang bising dan padat. Selalu ada rasa istimewa tiap kali mengingatnya, seolah jalanan itu menyimpan kenangan dan rahasia yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan. Bahkan Saya pun turut larut juga. Sering kali saya menyempatkan waktu untuk berkeliling seorang diri, menyusuri jalanan Pettarani sambil membiarkan diri saya hanyut dalam gelombang emosi-emosi yang saya sendiri pun tak tahu dari mana datangnya atau apa maknanya. Tapi justru karena ketidakjelasan itu, saya makin yakin bahwa Pettarani memang istimewa.
Namun siapa sangka di balik megahnya jalan utama itu, tersembunyi sebuah lorong sempit. Semakin saya melangkah masuk, semakin sempit ruang napas. Udara mulai dicekal oleh bau menyengat dari tumpukan sampah bercampur busuk dari kanal yang tak lagi mengalirkan kehidupan, tapi justru menyebar racun.
Menunduk ke arah kolong jembatan, saya dibuat termangu. Airnya hitam legam, ratusan benda yang tidak pantas mengapung, menjijikkan; plastik, botol, kain lapuk, bahkan bangkai mimpi akan lingkungan yang sehat. Bau yang menusuk itu seperti jeritan sunyi dari alam yang telah dilukai tanpa ampun.
Yang lebih memilukan lagi? Kanal ini membentang di antara permukiman padat. Di sanalah hidup orang-orang yang tak punya pilihan. Anak-anak kecil belajar jalan di pinggiran jembatan bambu kanal dengan air yang membawa penyakit. Para ibu menjemur pakaian di atas tanah yang dikepung aroma limbah. Wanita lansia duduk menatap kosong di teras mungil rumahnya, barangkali pasrah, barangkali lelah terpaksa hidup berdampingan dengan busuk, dengan risiko, dengan ancaman yang tak kasat mata.
Salah siapa?
Masyarakat? Karena mereka membung sampah dan limbah di Kanal.
Tapi, kenapa mereka membuang di kanal? Apakah tidak ada tempat yang lebih layak dan dekat daripada kanal?
Jika di kamarmu sudah tersedia kamar mandi, masih kah kamu malas dan memilih mengompol di celana dan kasur mu?
Hak asasi manusia bangsa ini lahir bukan dari pemerataan atau kepedulian negara, tapi sering kali tumbuh dari keterpaksaan dari warga yang terus bertahan dalam keterbatasan tanpa jaminan yang layak. Di bantaran kanal, masyarakat miskin hidup berdampingan dengan sampah dan limbah, bukan karena mereka tak peduli, tapi karena mereka tak diberi pilihan. Infrastruktur dasar seperti tempat pembuangan yang memadai, pengelolaan sampah yang adil, dan edukasi lingkungan belum jadi prioritas. Situasi HAM hari ini masih timpang: mereka yang lemah menanggung beban pencemaran, sementara yang hidup di jalan megah seperti Pettarani menikmati hak atas lingkungan sehat seolah itu hak istimewa, bukan hak warga negara. Jika negara terus abai dan hanya menyalahkan masyarakat, maka masa depan HAM kita akan tetap keruh seperti air kanal itu dibiarkan mengalir tanpa arah dan tanpa harapan.