Pembangunan semestinya menguatkan manusia, bukan memisahkannya dari lingkungan, komunitas, dan martabat. Setiap rumah menyimpan akar: cerita sejarah, tetangga, pekerjaan, dan kenangan. Namun ketika relokasi datang, semua itu tercerabut.
Warga Rusun Rajawali dulunya tinggal di pesisir, dimana mereka mengenal laut dan hidup ikan. Kini mereka tinggal jauh dari sumber hidup, tanpa ruang untuk tumbuh. Relokasi telah memindahkan tubuh mereka, tetapi tidak memulihkan jiwa yang terpisah dari akar kehidupannya.
Di tengah kota yang sibuk dengan pembangunan, mereka bertahan. Di ruang-ruang sempit namun hidup terus berjalan meski jauh dari kata layak. Mereka bukan sekadar warga miskin kota, mereka adalah pemilik sah dari hak yang dijamin konstitusi: hak atas perumahan, kesehatan, dan lingkungan yang aman.
Photostory ini mengajak kita merenung: apakah relokasi demi pembangunan benar-benar memuliakan manusia atau justru mencabut kemanusiaan mereka secara perlahan?
Kontras Dua Dunia
Gedung-gedung tinggi menjulang tak jauh dari Rusun Rajawali. Tapi warga di dalam rusun masih hidup dengan fasilitas minim dan ruang sempit. Ini bukan sekadar ketimpangan—ini bukti bahwa pembangunan belum menyentuh semua lapisan.
Lorong Rumahku
Kondisi gedung buruk, pencahayaan minim menjadi bagian dari keseharian. Hak atas tempat tinggal yang layak bukan sekadar punya atap, tapi juga lingkungan yang sehat dan aman—yang sayangnya cukup sulit dirasakan di sini.
Menunggu Perubahan
Fasilitas rusak dibiarkan bertahun-tahun. Warga menunggu, menyampaikan keluhan, tapi jarang ada tanggapan. Hak untuk didengar dan berpartisipasi adalah bagian dari hak asasi yang dilanggar secara halus.
Tumbuh Tanpa ruang
Anak-Anak dibesarkan dengan keterbatasan. Tanpa ruang bermain yang layak yang seharusnya menjadi hak. Anak-anak ini adalah generasi penerus, namun negara ini belum benar-benar menyiapkan ruang aman bagi mereka untuk tumbuh.
Photostory ini bukan hanya tentang bangunan yang rusak, kumuh atau lorong gelap, tetapi tentang hak-hak manusia yang diremehkan atas nama efisiensi dan pembangunan.
Masa depan hak asasi manusia di Indonesia akan ditentukan oleh keberanian kita melihat dan memperjuangkan mereka yang hidup di “pinggiran” kota—yang sering tak terlihat tapi memikul beban paling berat. Jika kota hanya dibangun untuk sebagian orang, maka kita bukan sedang membangun peradaban—kita sedang menciptakan jurang yang lebih dalam.
“Karena hak asasi bukanlah hadiah, tapi kewajiban negara yang harus dipenuhi untuk semua, tanpa terkecuali.”