Kota berubah dengan cepat, tak menunggu penghuninya. Ia akan terus bergerak meninggalkan. Bagi mereka yang dapat mengejar, maka kota akan menjadi teman seperjalanan. Namun, bagi mereka yang terlampau jauh akan menetap dan dilabeli tertinggal. Kota bak berpacu di jalan tol. Melesat, bebas hambatan, dan tanpa ruang keraguan.
Di pinggiran Kota Makassar, terdapat Kampung Kaserokang -satu lorong yang memanjang di Keluarahan Parangloe, Biringkanaya. Dikelilingi empang, sungai Tallo, Jalan Toll, dan Laut. Mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan dan buruh lepas. Kurang lebih terdapat 30 KK yang bermukim di lorong tersebut.
Di Kaserokang, Balla’atau rumah dalam bahasa Makassar, kemudian menjadi refleksi bagaimana warga hidup dengan mempertahankan rumah meski tanpa halaman karena dibatasi oleh sebuah tembok besar sepanjang 200 meter milik PT Sinar Galesong Pratama. Tembok yang tidak hanya membatasi namun juga merampas ruang dan hak bermain anak-anak Kaserokang.
Anak-anak ini mungkin belum sepenuhnya paham tentang mafia tanah. Saat ini, mereka hanya peduli pada lapangan, tanah, dan ruang tempat bermain. Masa depan HAM adalah mereka, namun merasakan HAM pun mereka dibatasi.
Kehidupan Kaserokang tanpa air bersih menjadi isu tersendiri. Bagaimana hak atas air tidak pernah berpihak kepada mereka dari dulu. Ibu-ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat anaknya tumbuh tanpa air bersih dan halaman rumah kini hanya menunggu didengar.